Agen Bola
Agen Bola

abg rela ngapain aja demi uang

13th June 2015 | Cat: Foto Hot | 1787 Views | No Comments

Cerita dewasa ini berkisah antara seorang abg smu dengan seorang om-om yang tanpa sengaja si om ini menemukan abg ini sedang berjalan ke sekolahnya dengan muka lesu, dengan keadaan ekonomi yang tidak menentu si om yang berniat membantu ekonomi abg ini juga memiliki rencana di otak mesum nya yaitu ingin mendapatkan tubuh abg smu yang bernama warni ini. Baca kisah ini selanjutnya : Suatu hari Senen di bulan Oktober 2006, aku keluar dari rumah agak telat yaitu jam 06.45 pagi. Kuperhatikan anak2 sekolah yang biasanya ramai di sepanjang jalan itu mulai agak sepi, mungkin mereka sudah mendapatkan kendaraan2 ke sekolahnya masing2. Saat perjalananku mencapai ujung desa Bedulan ( tempat ini pasti dikenal oleh semua orang karena sering terjadi tawuran antar desa sampai saat ini ), kulihat ada seorang anak sekolah perempuan yang melambai-lambaikan tangannya. Setelah kulihat dibelakangku tidak ada kendaraan lain, aku mengambil kesimpulan kalau anak sekolah itu berusaha mendapatkan tumpangan dariku dan karena dia seorang diri disekitar situ maka segera kuhentikan kendaraanku serta kubuka kacanya sambil kutanyakan, mau kemana dik ? Kulihat anak sekolah itu agak cemas dan segera menjawab pertanyaanku, Paaaak boleh saya ikut sampai di SMA ——— (Maaf, nama sekolahnya terpaksa Blogger hapus), dari tadi kendaraan umum penuh terus dan saya takut terlambat ? dengan wajah yang penuh harap. Yaaa…OK lah….naik cepat kataku. Terima kasih paaak…katanya sambil membuka pintu mobilku. Jarak dari sini sampai di sekolahnya kira2 10 Km dan selama perjalanan kuselingi dengan pertanyaan2 ringan, sehingga aku tahu kalau dia itu duduk di kelas 3 SMU di ——— dan bernama War— (maaf, namanya disamarkan oleh Blogger). Tinggi badannya kira2 155 cm, warna kulitnya bisa dibilang agak hitam bersih dan tidak cantik tapi manis dan menarik untuk dilihat, entah apanya yang menarik, mungkin karena matanya agak sayu. Penampilan nya sangat sederhana tanpa make-up, maklum saja perempuan tinggal di desa dan katanya orang tuanya adalah seorang petani. Tidak terlalu lama, kendaraanku sudah sampai di daerah ——— dan War— segera memberikan aba2..Ooom……sekolah saya ada di depan itu, katanya sambil jarinya menunjuk satu arah di kanan jalan. Kuhentikan kendaraanku di depan sekolahnya dan sambil menyalamiku War— mengucapkan terima kasih. Sambil turun dari mobil, War— masih sempat bertanya..Oooom….besok pagi saya boleh ikut lagi..nggak Oom, lumayan Oom….bisa naik mobil bagus kesekolah dan sekalian menghemat ongkos…boleh yaa..Oom ? Aku tidak segera menjawab pertanyaan itu, tapi kupandangi wajahnya, lalu kujawab…boleh boleh saja War— ikut Oom, tapi jangan bergerombol ikutnya yaaa. Enggak deh Oom, saya cuma sendiri saja kok selama ini. Setiap pagi sewaktu aku mencapai desa itu, War— sudah ada dipinggir jalan dan melambaikan tangannya untuk menghentikan mobilku. Dalam setiap perjalanan dia makin lama makin banyak bercerita soal keluarganya, kehidupannya di desa, teman2 sekolahnya dan dia juga sudah punya pacar di sekolahnya. Ketika kutanya apakah pacarnya tidak marah kalau setiap hari naik mobil orang, War— bilang tidak apa2 tapi tanpa ada penjelasan apapun, sepertinya dia enggan menceritakan lebih jauh soal pacarnya. War— juga cerita bahwa selama ini dia tidak pernah kemana-mana, kecuali pernah dua kali di ajak pacarnya piknik ke daerah wisata di Kuningan. Seminggu kemudian di hari Jum’at, waktu War— akan naik dimobilku kulihat wajahnya sedih dan matanya bengkak seperti habis menangis dan War— duduk tanpa banyak bicara. Karena penasaran, kusapa dia, War—….., habis nangis yaaaa…, kenapa…..? coba War— ceritakan….siapa tahu Oom bisa membantu. War— tetap membisu dan sedikit gelisah. Lama dia diam saja dan aku juga nggak mau mengganggunya dengan pertanyaan2, tetapi kemudian dia berkata…Oom, saya habis ribut dengan Bapak dan Ibu, lalu dia diam lagi. Kalau War— percaya pada Oom, tolong coba ceritakan masalahnya apa, siapa tahu Oom bisa membantu, kataku tetapi War— saja tetap membisu. Ketika mobilku sudah mendekati sekolahnya, tiba2 War— berkata, Oom…boleh nggak War— minta waktu sedikit buat bicara disini, mumpung masih belum sampai di sekolah. Mendengar permintaannya itu, segera saja kuhentikan mobilku dipinggir jalan dan kira2 jaraknya masih 2 Km dari sekolahnya. Ada apa War…? Kataku. War— tetap diam dan sepertinya ada keraguan untuk memulai berbicara. Ayoo..lah War (sebenarnya pengarang penuliskan tiga harus terakhir dari namanya, tapi terpaksa oleh Blogger diganti jadi 3 huruf terdepan), jangan takut atau ragu…ada apa sebenarnya, tanyaku lagi. Begini….Oom, kata War—, lalu dia menceritakan bahwa tadi malam dia minta uang kepada orang tuanya untuk membayar uang sekolahnya yang sudah tiga bulan belum dibayar dan hari ini adalah hari terakhir dia harus membayar, karena kalau tidak dia tidak boleh mengikuti ulangan2. Orang tuanya ternyata tidak mempunyai uang sama sekali, padahal uang sekolah yang harus dibayar itu sebesar 80 ribu rupiah. Alasan orang tua nya karena panen padi yang diharapkan telah punah karena hujan yang terus menerus. Dan katanya lagi orang tuanya menyuruh dia berhenti sekolah karena tidak mampu lagi untuk membayar uang sekolah dan mau dikawinkan dengan tetangganya. Aku tetap diam untuk mendengarkan cerita nya sampai selesai dan karena War— juga terus diam, lalu kutanya…..teruskan cerita mu sampai selesai War. Dia tidak segera menjawab tapi yang kulihat airmatanya terlihat menggenang dan sambil mengusap air matanya dia berkata…Oom, sebetulnya masih banyak yang ingin War— ceritakan, tapi saya takut nanti Oom terlambat kekantornya dan War— juga harus ke sekolah, serta lanjutnya lagi… kalau Oom ada waktu dan tidak keberatan, saya ingin pergi dengan Oom supaya saya bisa menceritakan semua masalah pribadi saya. Setelah diam sejenak, lalu War— berkata lagi…Oom, kalau ada dan tidak keberatan, saya mau pinjam uang Oom 80 ribu untuk membayar uang sekolah dan saya janji akan mengembalikan setelah saya dapat dari orang tua saya. Mendengar cerita War— walaupun belum seluruhnya, hatiku terasa tersayat dan segera kurogoh dompetku dan kuambilkan uang 200 ribu dan segera kuberikan padanya. Lho Oom, kok banyak benar…..saya takut tidak dapat mengembalikannya, katanya sambil menarik tangannya sebelum uang dari tanganku dipegangnya. War—….ambilah…nggak apa apa kok, sisanya boleh kamu belikan buku2 atau apa saja….., saya yakin War— membutuhkannya dan segera kupegang tangannya sambil meletakkan uang itu ditangannya dan sambil kukatakan…War—…ini nggak usah kamu beritahukan kepada siapa2, juga jangan kepada orang tuamu….dan…War— nggak perlu mengembalikannya. Belum selesai aku menyelesaikan kata2ku, tiba2 saja dari tempat duduknya dia maju dan mencium pipi kiriku sambil berkata…..terima kasih banyak Oom…, Oom..sudah banyak menolong saya. Aku jadi sangat terkesiap dan berdebar…bukan karena mendapat ciuman di pipiku, tapi karena tangan kiriku tersentuh buah dadanya yang terasa sangat empuk sehingga tidak terasa kontolku menjadi tegang dan sementara War— masih mencium pipiku, kugunakan tangan kananku untuk membelai rambutnya dan kucium hidungnya. Ayoo…War…sudah lama kita disini, nanti kamu terlambat sekolahnya. War— tidak menjawab tapi kulihat dikedua matanya masih tergenang air matanya. Ketika sudah sampai didepan sekolah nya sambil membuka pintu mobil, War— berkata..Oom.., terima kasih yaaa..ooom dan kapan Oom ada waktu untuk mendengar cerita War—. Kalau besok gimana…?, kataku. Boleh….oom, jawabnya cepat. Lho..besok kan masih hari Sabtu dan War— kan harus sekolah, jawabku. Sekali-kali mbolos kan nggak apa apa Oom…hari Sabtu kan pelajarannya tidak begitu padat dan kurang penting, kata War—. Oklah…kalau begitu…War, kita ketemu besok pagi ditempat biasa kamu menunggu. Dalam perjalanan ke kantor setelah War— turun, masalah War— terasa mengganggu pikiranku sehingga tidak terasa aku sudah sampai dikantor. Sebelum pulang kantor, aku izin untuk tidak masuk besok Sabtu pada Boss ku dengan alasan akan mengurus persoalan keluarga di Kuningan. Demikian juga waktu malamnya kukatakan pada Istriku kalau aku harus ke Jakarta untuk urusan kantor dan kalau selesainya telat terpaksa harus nginap dan pulang pada hari Minggu. Besok paginya dengan berbekal 1 stel pakaian yang telah disiapkan oleh Istriku, aku berangkat dan sampai di tempat yang biasa, kulihat War— tetap memakai baju seragam sekolahnya. Setelah dia naik ke mobil, kembali kulihat matanya tetap seperti habis menangis. Lalu kutanya…War…habis perang lagi yaaaa…?, soal apa lagi….?. Oom, ceritanya nanti saja deh….katanya agak malas. Kita mau kemana Oom…? Tanyanya. Lho…..terserah War— saja….Oom sih ikut saja. Oom….saya kepingin ketempat yang agak sepi dan nggak ada orang lain…., jadi kalau kalau War— nangis, nggak ada yang melihatnya kecuali Oom. Sambil memutar mobilku kembali ke arah Cirebon, aku berpikir sejenak mau ke tempat mana yang sesuai dengan permintaan War—, dan segera teringat kalau di pinggiran kota Cirebon yang kearah Kuningan ada sebuah lapangan Golf dan Cottage CPN. Segera saja kukatakan padanya..War—….tempat yang sesuai dengan keinginanmu itu kayaknya agak susah, tapi……bagaimana kalau kita ke CPN saja..? Dimana itu Oom dan tempat apaan…?tanya War—. Aku jadi agak susah menjelaskannya, tapi kujawab saja…tempatnya sih nggak jauh yaitu sedikit diluar Cirebon dan…..begini saja deh..War…, kita kesana dulu dan kalau War— kurang setuju dengan tempatnya, kita cari tempat lain lagi. Setelah sampai ditempat dan mendaftar di receptionist dan memesan minuman ringan serta mengambil kunci kamarnya, segera aku kembali ke mobil dan kutanyakan pada War—…gimana War….kamu mau disini..? lihat saja tempatnya sepi ( maklum saja masih pagi-pagi. Receptionist nya saja seperti terheran-heran, sepertinya berfikir kok ada tamu pagi2 sekali dan nomor mobilnya bukan dari luar kota ). Setelah mobil kuparkir didepan kamar, sebelum turun kutanya dia kembali…War…gimana…mau disini ? atau mau cari tempat lain ? War— tidak segera menjawab pertanyaanku, tapi dia ikut turun dari mobil dan mengikutiku kearah pintu kamar motel. Segera setelah sampai didalam, dia langsung duduk di tempat tidur sambil memperhatikan seluruh ruangan. Karena kulihat dia tetap diam saja, aku jadi merasa tidak enak dan segera kudekati dia yang masih tetap duduk di pinggiran tempat tidur dan sambil agak berlutut, kucium keningnya beberapa saat dan tiba2 saja War— memelukku dan terdengar tangisan lirih sambil terisak-isak. Sambil masih memelukku, kuangkat berdiri dari duduknya dan kuelus-elus rambutnya, sambil kucium pipinya serta kukatakan, War—…..coba tenangkan dirimu…..dan ceritakan semua masalah mu pada Oom….., siapa tahu Oom bisa membantumu dalam memecahkan masalahmu itu. War— masih saja memelukku tapi senggukan tangisnya mulai mereda. Beberapa saat kemudian kubimbing dia kearah tempat tidur dan perlahan kuterlentangkan War— ditempat tidur dan kurangkulkan tangan kiriku di bahunya dan kupandangi wajahnya, sambil kukatakan….War—…cobalah ceritakan masalahmu itu…..dan biar Oom bisa mengetahui permasalahanmu itu. War— tetap diam saja dan memejamkan matanya, tapi tak lama kemudian, sambil menyeka airmatanya dia membuka matanya dan memandang kearahku yang jaraknya antara wajahnya dan wajahku sangat dekat sekali. Oom….., katanya seperti akan memulai bercerita, tapi lalu dia diam lagi. War…..,kataku sambil kucium pipinya dan kuusap usapkan jari2 tangan kananku dirambutnya….cerita lah. Lalu War— mulai bercerita dan dia menceritakan secara panjang lebar soal kehidupan keluarganya yang miskin, dia anak pertama dari 3 bersaudara, tentang pacarnya di sekolah tapi lain kelas yang sudah 2 tahun pacaran dan sekarang sudah meninggalkan dia karena mendapatkan pacar baru di kelasnya dan dia juga menceritakan kalau orang tuanya sudah menjodohkan dengan tetangga nya yang sudah punya istri dan anak, tapi kaya dan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah War— dan dia harus segera berhenti dari sekolahnya karena akan dikawinkan pada bulan Maret akan datang. War— katanya kepingin sekolah dulu dan belum pingin kawin, apalagi kawin dengan orang yang sudah punya Istri dan anak. War— punya keinginan mau lari dari rumahnya, tapi tidak tahu mau kemana. War— juga menceritakan bahwa sebetulnya dia masih cinta kepada kawan sekolahnya itu, apalagi dia sudah terlanjur pernah tidur bersama sewaktu piknik ke Kuningan dulu, walaupun katanya dia tidak yakin kalau punyanya pacarnya itu sudah masuk ke memeknya apa belum, karena belum apa2 sudah keluar katanya. Jadi….gimana..Oom…, apa yang harus saya perbuat dengan masalah ini, katanya setelah menyelesaikan ceritanya. War—……., kataku sambil kembali kuelus-elus rambutnya dan kucium pipinya didekat bibirnya…..War—….masalahmu kok begitu rumit, terutama persoalan lamaran tetanggamu itu. Begini saja War…..sebaiknya kamu minta kepada orangtua mu untuk menunda perkawinan itu sampai kamu selesai sekolah. Bilang saja…kalau ujian SMA mu hanya tinggal beberapa bulan lagi. Katakan lagi….sayang kalau biaya yang telah dikeluarkan selama hampir tiga tahun di SMA harus hilang percuma tanpa mendapatkan Ijasah. War….sewaktu kamu mengatakan ini semua, jangan pakai emosi, katakan dengan lemah lembut, mudah2an saja orangtuamu mau mengerti dan mengundurkan perjodohanmu dengan tetanggamu itu. Kalau orangtuamu setuju, jadi kamu bisa konsentrasi untuk menyelesaikan sekolahmu dan yang lainnya bisa dipikirkan kemudian. Setelah selesai memberikan saran ini, lalu kembali kucium pipinya seraya kutanya…War…..bagaimana pendapatmu dengan saran oom ini ? Seraya saja War— bangkit dari tidurnya dan memelukku erat2 sambil menciumi pipiku dan berkata..Ooom….terima kasih…atas saran oom ini…belum terpikir oleh saya sebelumnya hal ini….Oom sangat baik terhadap War—….entah bagaimana caranya saya membalas kebaikan Oom, dan terasa airmatanya menetes dipipiku. Setelah diam sesaat, kembali kurebahkan badan War— terlentang dan kulihat dari matanya yang tertutup itu sisa airmatanya dan segera kucium kedua matanya dan sedikit demi sedikit cimmanku kuturunkan kehidungnya dan terus turun kepipi kirinya, setelah itu kugeser ciumanku mendekati bibirnya. Karena War— masih tetap diam dan tidak menolak, keberanianku semakin bertambah dan secara perlahan lahan kugeser ciumanku kearah bibirnya, dan tiba2 saja War— menerkam dan memelukku serta mencari bibirku dengan matanya yang masih tertutup. Aku berciuman cukup lama dan sesekali lidahku kujulurkan kedalam mulutnya dan War— mengisapnya. Sambil tetap berciuman, kurebahkan badan nya lagi dan tangan kananku segera kuletakkan tepat diatas buah dadanya yang terasa sangat kenyal dan sedikit kuremas. Karena tidak ada reaksi yang berlebihan serta War— bukan saja mencium bibirku tapi seluruh wajahku, maka satu-satu kancing baju SMU nya berhasil kulepas dan ketika kusingkap bajunya, tersembul dua bukit yang halus tertutup Bh putih tipis dan ukurannya tidak terlalu besar. Ketika kucoba membuka baju sekolahnya dari tangan kanannya, War— kelihatannya tetap diam dan malah membantu dengan membengkokkan tangannya. Setelah berhasil melepas baju dari tangan kanannya, segera kucari kaitan Bhnya dibelakang dan dengan mudah kutemukan serta kulepaskan kaitannya, sementara itu kami masih tetap berciuman, kadang dibibir dan sesekali diseluruh wajah bergantian. Bhnya pun dengan mudah kulepas dari tangan kanannya dan ketika kusingkap Bhnya, tersembul buah dada War— yang ukurannya tidak terlalu besar tapi menantang dan dengan putting susunya berwarna kecoklatan. Dan dengan tidak sabar dan sambil meremas pelan tetek kanannya, kuturunkan wajahku menyelusuri leher dan terus kebawah dan sesampainya di teteknya, kujilati tetek War— yang menantang itu dan sesekali kuhisap puting teteknya, sementara War— meremas remas rambutku seraya terdengar suara lirih ….aaaaahhhh….aaaaaahh…. Oooomm….sssssshhhh….aaaahhh. Aku paling tidak tahan kalau mendengar suara lirih seperti ini, serta merta kontolku semakin tegang dan kugunakan kesempatan ini sambil tetap menjilati dan menghisap tetek War—, kugunakan tangan kananku untuk menelusuri bagian bawah badan War—. Ketika sampai di celana dalamnya serta kuelus elus memeknya, terasa sekali ada bagian Cd yang basah. Sambil masih tetap menjilati tetek War—, kugunakan jari tanganku menyusup masuk dari samping Cdnya untuk mencari bibir memek nya dan ketika dapat dan kuelus, badan War— terasa menggelinjang dan membukakan kakinya serta kembali terdengar aaaaahhh…..ssssshhhh……ssssshhh …. aaaaahhh. Aku jadi semakin penasaran saja mendengar suara War— mengerang lirih seperti itu. Segera kulepas tanganku yang ada di memeknya dan sekarang kugunakan untuk mencari kancing atau apapun yang ada di Rok sekolahnya untuk segera kulepas. Untung saja rok sekolah yang dipakai adalah rok standard yaitu ada kaitan sekaligus resleting, sehingga dengan mudah kutemukan dan kubuka kaitan dan resletingnya, sehingga roknya menjadi longgar dibadan War—. Lalu perlahan lahan kuturunkan badanku serta ciumanku menelusuri perut War— seraya tanganku berusaha menurunkan rok nya. Roknya yang sudah longgar itu dengan mudah ku turunkan ke arah kakinya dan kuperhatikan War— mengenakan Cd warna merah muda dan kulihat juga memeknya yang menggunung didalam Cdnya. Badan War— menggelinjang saat ciumanku menelusuri perut dan pada saat ciumanku mencapai Cd diatas gunungan memeknya itu, gelinjang badan War— semakin keras dan pantatnya seakan diangkat serta tetap kudengar suaranya yang lirih sambil meremas-remas rambutku agak keras serta sesekali memanggil ..sssssssshhhh… aaaaahh….. sssshhht….. ooom….. aaaahhhh. Sambil kujilati lipatan pahanya, kuturunkan Cd nya perlahan-lahan dan setelah setengahnya terbuka, kuperhatikan memek War— masih belum banyak ditumbuhi bulu sehingga terlihat jelas belahan memeknya dan basah. Setelah berhasil melepas Cd nya dari kedua kaki War— yang masih menjulur di lantai, kuposisikan badanku diantara kedua paha War— sambil merenggangkan kedua pahanya. Dengan pelan pelan kujulurkan lidahku dan kujilati belahan memek nya yang agak terbuka akibat pahanya kubuka agak lebar. Bersamaan dengan jilatanku itu, tiba2 War— bangun dari tidurnya dan berkata Jaaa…ngaaan…Ooom, sambil mencoba mengangkat kepalaku dengan kedua tangannya. Karena takut War— akan marah, maka dengan terpaksa aku bangkit dan kupeluk War— serta berusaha menidurkannya lagi sambil kucium bibirnya untuk menenangkan dirinya. War— tidak memberikan komentar apa apa, tapi kami kembali berciuman dan War— sepertinya lebih bernafsu dari sebelumnya dan lebih agresif menciumi seluruh wajahku. Sementara itu tanganku kugunakan untuk melepas baju dan Bh War— yang sebelah dan yang tadi belum sempat kulepas, War— sepertinya mendiamkan saja, malah sepertinya membantuku dengan memiringkan badannya agar bajunya mudah kulepas. Sambil tetap berciuman, sekarang aku berusaha untuk melepas baju dan celanaku sendiri. Setelah aku berhasil melepas semua pakaianku termasuk Cdku, lalu dengan harap harap cemas karena aku takut War— akan menolaknya, aku menempatkan diriku yang tadinya selalu disamping kiri atau kanan badan War—, sekarang aku naik diatas badan War—. Perkiraanku ternyata salah, setelah aku ada di atas badan War—, ternyata dia malah memelukkan kedua tangannya di punggungku sambil sesekali menekan nekan. Dalam posisi begini, terasa kontolku agak sakit karena tertindih diantara badanku dan paha War—. Karena tidak tahan, segera kuangkat kaki kananku untuk mencari posisi yang enak, tapi bersamaan dengan kakiku terangkat, kurasakan War— malah merenggangkan kedua kakinya agak lebar, tentu saja kesempatan ini tidak kusia2kan, segera saja kutaruh kedua kakiku di bagian tengah kedua kakinya yang dilebarkan itu dan sekarang terasa kontolku berada di atas memek War—. War— masih memelukkan kedua tangannya di punggungku dan meciumi seluruh wajahku. Sambil masih tetap kujilat dan ciumi selluruh wajahnya, kuturunkan tanganku kebawah dan sedikit kumiringkan badanku, perlahan lahan kuelus memek War— yang menggembung dan setelah beberapa saat lalu kupegang bibir memeknya dengan jariku dan kurasakan kedua tangan War— serasa mencekeram di punggungku dan ketika jari tengahku kugunakan untuk mengelus bagian dalam memeknya, terasa memek War— sangat basah dan kurasakan badan bawah War— bergerak perlahan lahan sepertinya mengikuti gerakan jari tanganku yang sedang mengelus dan meraba bagian dalam memek nya dan sesekali ku permainkan kelentitnya dengan jari2ku sehingga War— sering berdesis sssssssssshh……..sssssssshhhh…. .aaaaaahhhh….ssssshhh sambil kurasakan jari kedua tangannya menusuk punggungku. Setelah sekian lama kupernainkan memeknya dengan jariku, kemudian kulepaskan jariku dari memek War— dan kugunakan tangan kananku untuk memegang kontolku serta segera saja kontolku kuarahkan ke memek War— sambil kugosok gosokan keatas dan kebawah sepanjang bagian dalam memek War—, serta kembali kudengar desis suara nya ssssssshhhh… sssshhhh… ooooom…… aaaaaaahh….sssssshhhh dan pantatnya diangkat naik turun pelan pelan. Karena kulihat War— sudah sangat terangsang nafsunya, segera saja kuhentikan gerakan tanganku dan kutujukan kontolku kearah bawah bagian memek nya dan setelah kurasa pas, segera kulepaskan tanganku dan kutekan pelan pelan kontolku kedalam memek War—. Kuperhatikan wajah War— agak mengerenyit seperti menahan rasa sakit serta menghentikan gerakan pantatnya serta bersuara pelan tepat didekat telingaku…. Aduuuhh … oooomm….Jangaaaannn …..sakiiittt…., Asiihh….takuuut…Oom. Mendengar suaranya yang sedikit menghiba itu, segera kuhentikan tusukan kontolku dan kuelus elus dahinya sambil kucium telinganya serta kubisikan ..tidak….apa apa….. sayaaaang…. Oom …. pelan pelan saja….kok, untuk menenangkan ketakutan War—. War— tidak segera menanggapi kata2ku dan tetap diam saja dengan tetap masih memelukkan kedua tangannya di punggungku. Karena dia diam saja dan memejamkan kedua matanya, segera secara perlahan lahan, kutusukan kembali kontolku ke dalam memeknya dan terdengar lagi War— berkata lirih didekat telingaku….aduuuuhh…..sakiiitt t…. ooom,….. Asihhh….. takuuuuut, padahal kurasakan kalau War— mulai lagi menggerakkan pantatnya perlahan lahan. Mendengar kata2nya yang lirih ini, kembali kuhentikan tusukan kontolku tapi masih tetap ditempatnya yaitu dilubang memeknya, dan kembali kuciumi bibir dan wajahnya serta kuelus elus rambutnya sambil kubisiki….takut…apa…sayang…….W ar— tidak segera menjawab pertanyaanku itu. Sambil menunggu jawabannya, kuteruskan ciumanku dibibirnya dan War— mulai lagi melayani ciumanku itu dengan memainkan lidahku yang kujulurkan kedalam mulut nya dan kurasakan War— mulai memindahkan kedua tangannya dari punggungku ke atas pantatku. Aku tetap bersabar menunggu dan tidak terburu buru untuk menusukkan kontolku lagi. Tetap dengan masih menghisap lidahku, kurasakan kedua tangan War— sedikit menekan pantatku, entah perintah supaya aku menusukkan kontolku ke memeknya atau hanya perasaanku saja. Sementara aku diamkan saja dan dengan masih berciuman, kutunggu reaksi War— selanjutnya. Ketika ciumanku kualihkan ke daerah dekat telinganya, kulihat War— berusaha mengelak mungkin karena kegelian dan kembali kurasakan kedua tangannya seperti menekan pantatku. Lalu kembali kulumat bibirnya dan perlahan tapi pasti, kembali kutekan kontolku kedalam memeknya, tapi War— tidak kuberi kesempatan untuk berkata-kata karena mulutnya kusumpal dengan mulutku dan kontolku makin kutekankan kedalam memeknya serta kulihat mata War— menutup rapat2 seperti menahan sakit. Karena kontolku belum juga menembus memeknya, lalu sedikit kuangkat pantatku dan kembali kutusukkan kedalam memek War— dan…….bleeeeeessssss….terasa kontolku sepertinya sudah menembus memek War— dan aaaaaahhhh……..sakiiiiit….ooom… .,kudengar suara War— sambil seperti menahan rasa sakit dan berusaha menarik pantatku. Untuk sementara tidak kugerakkan pantatku dan setelah kulihat War— mulai tenang dan kembali mau menciumi wajahku, lalu perlahan lahan kutekan kontolku yang sudah menembus memek nya supaya masuk lebih dalam lagi. Aaaaaaahhh…..oom….pelan..pelaa aan.., kudengar War— berkata lirih…Iyaaaa….sayaaaang…ooom…. pelah…pelan…., jawabku serta kubelai rambutnya. Setelah kudiamkan sebentar, lalu kugerakkan pantatku naik turun sangat pelan agar War— tidak merasa kesakitan, dan ternyata berhasil, wajah War— keperhatikan tidak tegang lagi sehingga pergerakan kontolku keluar masuk memek War— sedikit kupercepat dan belum berapa lama terdengar suara War—…..ooom……oooooom.. aaaaaduuuuhhh… ooommm…aaaaaaahhh…..aaaadddduu uuuhh…aaaaaahh…ooom…, sambil kedua tangannya mencengkeram punggungku dengan kuat dan menciumi keseluruhan wajahku dengan sangat bernafsu dan badannya berkeringat, lalu War— berteriak agak keras aaaaaaaaaaaaaaaahhhh….oooomm…. .aduuuuuhhhhh…..lalu War— terkapar dan terdiam lemas dengan nafas terengah engah. Rupanya Aku yakin kalau War— sudah mencapai orgasmenya padahal nafsuku baru saja akan naik. Karena kulihat War— sepertinya sedang kelelahan dengan kedua matanya tertutup rapat, jadi timbul rasa kasihanku, lalu sambil kuseka keringat wajahnya kuciumi pipi dan bibirnya dengan lembut, tapi War— tidak bereaksi dan tanpa kuduga di gigitnya bibirku yang sedang menciumnya seraya berkata lirih….Oooom…..nakal…yaaaaa…., War— baru sekali ini..merasakan hal seperti tadi…., sambil mencubit punggungku. Aku tidak menjawab komentarnya tapi yang kuperhatikan adalah nafasnya sudah mulai teratur dan secara perlahan lahan aku mulai menggerakkan kontolku lagi keluar masuk memek War—. Kuperhatikan War— mulai terangsang lagi, War— mulai menghisap bibirku dan mulai mencoba menggerakkan pantatnya pelan2 dan gerakannya ini membuat kontolku seperti di pelintir pelintir keenakan. Gerakan kontolku keluar masuk semakin kupercepat dan demikian juga War— mulai makin berani mempercepat gerakan putaran pantatnya, sambil sesekali kedua tangannya yang dipelukkan dipinggangku berusaha menekan sepertinya menyuruhku untuk memasukkan kontolku kedalam memeknya lebih dalam lagi dan kudengar War— mulai bersuara lagi ..aaaaaaahh…..aaaaahh….ooooohh h….oommm…aaaaaaaaah….dan tidak terasa akupun mulai berkicau …..aaaaaaacchhh….aaaaaahhh…Sii iihh…..enaaaakk….. teruuuuuus….Siiiih. Ketika nafsuku sudah mulai memuncak dan kudengar juga nafas War— semakin cepat, dengan perlahan lahan kupeluk badan War— dan segera kubalik badannya sehingga sekarang War— sudah berada diatasku dan kupelukkan kedua tanganku di pantatnya, sedangkan wajah War— ditempelkan diwajahku. Dengan sedikit makan tenaga, kucoba menggerakkan pantatku naik turun dan setiap kali pantatku naik, kugunakan kedua tanganku menekan pantat War— kebawah dan bisa kurasakan kalau kontolku masuk lebih dalam di memek War—, sehingga setiap kali kudengar suara nya sedikit keras …aaaaahhh….oooooh. Dan mungkin karena keenakan, sekarang gerakan War— malah lebih berani dengan menggerakkan pantatnya naik turun sehingga kedua tanganku tidak perlu menekannya lagi dan setiap kali pantatnya menekan kebawah sehingga kontolku serasa masuk semuanya di memek War—, kudengar dia bersuara keenakan ….aaaaahhh…..aaaaaaah disertai nafasnya yang semakin cepat, demikian juga aku sambil berusaha menahan agar maniku tidak segera keluar. Gerakan War— semakin cepat saja dan kurasakan wajahnya semakin ditekankan kewajahku sehingga kudengar nafasnya yang sangat cepat itu didekat telingaku dan aduuuuuh…..aaaaaaahhh…..aaaahh h…ooommm….War—…..mauuuuu…kelua aaaaar…aaaaaaah. Tungguuuuu….. Waaaaarrrr…….kitaaaa….samaaa…. samaaaaaa… ooom…. Jugaaaaa … mauuuu….. Aaaaaaaaaaahhhhh..aaaaaaaaaahh hhhh….Ooooooommm…..teriak War— sambil mengerakkan pantatnya menggila dan akupun karena sudah tidak tahan menahan maniku dari tadi segera kegerakkan pantatku lebih cepat dan ccrreeetttt……ccrreeeeeett….ccc crrreeeeeett…dan aaaaaaaaahhhh…siiiiiiihh…. oooom keluaaaaaaaar…… sambil kutekan pantat War— kuat2. Adsense IndonesiaAdsense Indonesia