Agen Bola
Agen Bola

Cerita dewasa abg, tante lidya yang penuh nafsu –

cerita dewasa bergambar

LIDYA adalah seorang tetangga ramah, dalam cerita seks ini Lidya digambarkan sebagai sosok ibu muda yang baik, sopan dan ramah, tapi siapa sangka nafsu besar yang dimiliki Lidya ternyata tertutup oleh keramahannya. Setelah sebelumnya cerita tentang istriku tukang selingkuh, berikut tentang perselingkuhan seorang ibu muda.
cerita sex tante lidyaCerita Sex: Tante Lidya Yang Ganas – Ist

Kejadian ini terjadi sekitar 1 bulan yang lalu tepatnya 1bln kurang 1hari. Waktu itu saya beserta 2 orang teman kantor sedang makan siang di sebuah restoran di bilangan Kemang. Ketika saya hendak membayar makanan, saya mengantri di belakang seorang wanita cantik yang sedang menggendong anak kecil. Karena agak lama, saya menegurnya. Ketika ia menengok ke arah saya, saya sangat kaget, ternyata ia adalah Lidya.

Nah,,, Lidya ini adalah istri tetangga saya di komplek saya.

“Eh,.. Mas Dani. Lagi ngapain Mas..?” tanyanya lidya.
“Anu, saya sedang makan siang. Kamu ama siapa Mir..? Andre ndak ikut..?”
“Enggak Mas, dia lagi ada tugas luar kota. Saya lagi beli makanan niii, sekalian buat nanti malam. Soalnya si Ati lagi pulang kampung juga. Ya udah, saya keluar aja bareng Vina (anaknya-pen).”
“Kamu bawa mobil..?” tanya saya.
“Enggak tuh Mas, mobilnya dibawa Mas Andre ke Lampung.”
“Oooo, mau pulang bareng ngk nii..? Kebetulan saya juga mau langsung pulang, tadi habis tugas lapangan.”
“Ya sudah nggak apa-apa, kalau ngak ngerepotin mas.”

Singkat cerita, saya dan kedua teman saya langsung pulang ke rumah masing-masing. Sementara saya, Lidya dan Vina pulang bersama di mobil saya. Sesampainya di rumah Lidya yang hanya berjarak 4 rumah dari saya, Lidya mengajak mampir, tapi saya bilang mau pulang dulu, ganti baju dan menaruh mobil. Karena Jenny, istri saya, sedang pergi ke rumah orangtuanya, saya langsung saja pergi ke rumah Lidya dengan memakai celana pendek dan kaos.

Ternyata, rumah Lidya tertata cukup apik. Ketika saya masuk, si Lidya hanya memakai piyama mandi.

“Saya ganti baju dulu ya Mas, gerah nih,” katanya sambil tersenyum.
“Ooo.., iya, si Vina mana..?” tanya saya sambil terpesona melihat kecantikan dan kemulusan body si Lidya.
“Anu Mas, dia langsung tidur pas sampai di rumah tadi, kasihan dia capek, saya ke kamar dulu ya Mas..!”
“Eh, iya, jangan lama-lama ya,” kata saya.

Ketika Lidya masuk ke dalam kamar, dia (entah sengaja atau tidak) tidak rapat menutup pintu kamarnya. Merasa ada kesempatan, saya mencoba mengintip. Memang lagi mujur, ternyata di lurusan celah pintu itu, ada kaca lemari riasnya. Wow, untuk ukuran wanita yang telah mempunyai anak berumur 3 tahun, si Lidya ini masih punya bentuk tubuh yang bagus dan indah. Dengan ukuran 34B dan selangkangan yang dicukur, dia langsung membuat “adik kecil” saya berontak dan bangun.

Dan yang menambah kaget saya, sebelum memakai daster yang hanya selutut, ia hanya memakai celana dalam jenis G-string dan tidak mengenakan BH. Sebelum ia berjalan ke luar kamar, saya langsung lari ke sofa dan pura-pura membaca koran.

“Eh, maaf ya Mas kelamaan. ” kata Lidya sambil duduk setelah sepertinya berusaha untuk membetulkan letak tali celana dalamnya yang menyempil.
“Ndak apa-apa kok, saya juga lagi baca koran. Memangnya Andre berapa hari tugas luar kota..?” tanya saya yang juga ‘sibuk’ membetulkan letak si ‘kecil’ yang salah orbit.

Sambil tersenyum penuh arti, Susi menjawab, “3 hari Mas, baru berangkat tadi pagi. Ngomong-ngomong saya juga sudah 2 hari ini nggak liat Mbak Jenny, kemana ya Mas..?” “Dia ke rumah orangtuanya. Seminggu. Bapaknya sakit.” jawab saya. “Wah, kesepian dong..?” tanya Lidya menggoda saya.

Merasa hal ini harus saya manfaatkan, saya jawab saja sekenanya,

“Iya nih, mana seminggu lagi, ndak ada yang nemenin. Kamu mau nemenin saya emangnya..?” “Wah tawaran yang menarik tuh..,” jawab Lidya sambil tersenyum lagi,

“Emangnya Mas mau saya temenin..? Saya kan ada si Vina, nanti ganggu Mas lagi. Mas Dani kan belum punya anak, jadinya santai.”
“Ndak apa-apa, eh iya, saya mau tanya, kamu ini umur berapa sih? Kok keliatannya masih muda ya..?” sambil menggeser posisi duduk saya supaya lebih dekat ke Lidya.
“Saya baru 27 kok Mas, saya married waktu 23THN, pas baru lulus kuliah. Saya diajak married Mas Andre itu pas dia sudah bekerja 3 tahun. Gitu Mas, memang kenapa sih..?”
“Ndak, saya kok penasaran ya. Kamu sudah punya anak umur 3 tahun, tapi kok badan kamu masih bagus banget, kayak anak umur 20-an gitu.” kata saya.
“Yah, saya berusaha jaga badan aja Mas. Biar laki-laki yang ngeliat saya pada ngiler,” katanya sambil tersenyum. “Wah, kamu ini bisa saja, tapi memang iya sih ya, saya kok juga jadi mau ngiler nih.”
“Nah kan, mulai macem-macem ya, nanti saya jewer lho..!”
“Kalo saya macem-macem beneran, emangnya kamu mau jewer apa saya..?” tanya saya sambil terus melakukan penetrasi dari sayap kanan Lidya.

Merasa saya melakukan pendekatan, Lidya kok ya mengerti. Sambil menghadap ke wajah saya, dia bilang,

“Wah, kalo beneran, saya mau jewer ‘burungnya’-nya Mas Dani, biar putus sekalian.”
“Memangnya kamu berani..?” tanya saya,
“Dan lagi saya juga bisa menbales,”
“Saya berani lho Mas..!” sambil beneran memegang ‘burung’ saya yang memang sudah minta dipegang,
“Terus Mas Dani menbalesnya gimana..?”
“Nanti saya remes-remes lho toketmu..!” jawab saya sambil beneran juga melakukan serangan pada bagian dada.

Karena merasa masing-masing sudah memegang ‘barang’, kami tidak bicara banyak lagi. Saya langsung mengulum bibir Lidya yang memang lembut sekali dan basah serta penuh gairah. Dan tampaknya, Lidya yang sudah setengah jalan, langsung memasukkan tangannya ke dalam celana saya, tepat memegang ‘burung’ saya yang maha besar itu (kata istri saya sih).

“Mas Dani, kon**lnya gede banget.” kata Lidya sambil terengah-engah.
“Sudah, nikmati aja. Kalo mau diisep juga boleh..!” kata saya.

Dan tanpa banyak bicara, Lidya langsung membuka 2 pertahanan bawah saya. Dengan seenaknya ia melempar celana pendek dan celana dalam saya, dan langsung menghisap batang kemaluan saya. Ternyata, hisapannya top banget. Tanpa tanggung-tanggung, setengah penis saya yang 18 cm itu dimasukkan semuanya. Dalam hati saya berpikir,

“Maruk juga nih perempuan..!” Setelah hampir 5 menit, Lidya saya suruh berdiri di depan saya sambil saya lucuti pakaiannya.

Tanpa di komando, Lidya melepas celana dalamnya yang mini itu, dan menjejalkan kemaluannya yang tanpa bulu ke mulut saya. Ya sudah, namanya juga dikasih, langsung saja saya ciumi dan saya jilat-jilat. “Mas, geli Mas,” kata Lidya sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya. “Tadi ngasih, sekarang komentar..!” kata saya sambil memasukkan dua jari tangan saya ke dalam vaginanya yang (ya ampun) peret banget, kayak kemaluan perawan.

Masih dalam posisi duduk, saya membimbing pantat dan vagina Lidya ke arah batang kemaluan saya yang makin lama makin keras. Perlahan-lahan, Lidya memasukkan kejantanan saya ke dalam vaginanya yang mulai agak-agak basah.

“Pelan-pelan ya Mir..! Nanti memekmu sobek,” kata saya sambil tersenyum.

Lidya malah menjawab saya dengan serangan yang benar-benar membuat saya kaget. Dengan tiba-tiba dia langsung menekan batang kejantanan saya dan mulai bergoyang-goyang.

Gerakannya yang halus dan lembut saya imbangi dengan tusukan-tusukan tajam menyakitkan yang hanya dapat dijawab Lidya dengan erangan dan desahan. Setelah posisi duduk, Lidya mengajak untuk berposisi Dog Style. Lidya langsung nungging di lantai di atas karpet. Sambil membuka jalan masuk untuk kemaluan saya di vaginanya, Lidya berkata,

“Mas jangan di lubang pantat ya, di memek aja..!” Seperti anak kecil yang penurut, saya langsung menghujamkan batang kejantanan saya ke dalam liang senggama Lidya yang sudah mulai agak terbiasa dengan ukuran kemaluan saya.

Gerakan pantat Lidya yang maju mundur, benar-benar hebat.

Pertandingan antar jenis kelamin itu, mulai menghebat tatkala Lidya ‘jebol’ untuk yang pertama kali.

“Mas, aku basah..,” katanya dengan hampir tidak memperlambat goyangannya.

Mendengar hal itu, saya malah langsung masuk ke gigi 4, cepat banget, sampai-sampai dengkul saya terasa mau copot. Kemaluan Lidya yang basah dan lengket itu, membuat si ‘Vladimir’ tambah kencang larinya.

“Mir, aku mau keluar, di dalam apa di luar nih buangnya..?” tanya saya.

Eh Lidya malah menjawab,

“Di dalam aja Mas, kayaknya aku juga mau keluar lagi, barengin ya..?” Sekitar 3 menit kemudian, saya sudah benar-benar mau keluar, dan sepertinya Lidya juga.

Sambil memberi aba-aba, saya bilang,

“Mir, sudah waktunya nih, keluarin bareng ya, 1 2 3..!” Saya memuntahkan air mani saya ke dalam liang vagina Lidya yang pada saat bersamaan juga mengeluarkan cairan kenikmatannya.

Setelah itu saya mengeluarkan batang kejantanan saya dan menyuruh Lidya menghisap dan menjilatinya sekali lagi. Si Lidya menurut saja, sambil ngos-ngosan, Lidya menjilati penis saya. Ketika Lidya sedang sibuk dengan batang kejantanan saya, Vina bangun tidur dan langsung menghampiri kami sambil bertanya,

“Mami lagi ngapain..? Kok Om Dani digigit..?” Lidya yang tampaknya tidak kaget, malah menyuruh Vina mendekat dan berkata,
“Vina, Mami nggak gigit Om Dani. Mami lagi makan ‘permen kojek’-nya Om Dani, rasanya enak banget deh, asin-asin..” “Mami, emangnya permennya enak..? Vina boleh nggak ikut makan..?” tanya Vina.

Sambil mengocok-ngocok penis saya, Lidya berkata,

“Vina nggak boleh, nanti diomelin sama Om Dani, mendingan Vina duduk di bangku ya, ngeliat Mami sama Om Dani main dokter-dokteran.” Saya yang dari tadi diam saja, mulai angkat bicara,
“Iya, Vina nonton aja ya, tapi jangan bilang-bilang ke Papi Vina, soalnya kasian Mami nanti. Ini Mami kan lagi sakit, jadinya Om kasih permen terus disuntik.” Sambil terus memegang penis saya yang mulai kembali mengeras, Lidya berkata pada Vina,
“Nanti kalo’ Vina nggak bilang ke papi, Vina Mami beliin baju baru lagi deh, ya? Tuh liat, suntikannya Om Dani mulai keras. Vina diam aja ya, Mami mau disuntik dulu nih..!” Merasa ada tantangan lagi, saya langsung mencium Dani dengan lembut di bibirnya yang masih beraroma sperma, sambil meremas buah dadanya yang kembali mengeras.

Lidya langsung melakukan gerakan berputar dan langsung telentang sambil tertawa dan berteriak tertahan,

“Babak kedua dimulai, teng..!” Sementara Vina hanya diam melihat maminya dan saya ‘acak-acak’, walaupun terkadang dia membantu mengelap keringat maminya dan saya.

Itulah pengalaman saya dan Lidya yang masih berlanjut untuk hari-hari berikutnya. Kadang-kadang di rumah saya, dan tidak jarang pula di rumahnya. Kami melakukan berbagai macam gaya, dan di segala ruangan dan kondisi. Pernah kami melakukan di kamar mandi, masih dengan Vina yang ikut nimbrung ‘nonton’ pertandingan saya vs maminya. Dan Vina juga diam dan tidak bicara apa-apa ketika papinya pulang dari Lampung.

Hal itu malah makin mempermudah saya dan Lidya yang masih sering bersenggama di rumah saya ketika saya pulang kantor, dan ketika istri saya belum pulang dari rumah orangtuanya. Dan saya akan masih terus akan menceritakan pengalaman saya dengan Lidya. Dan nanti akan saya ceritakan pengalaman saya dengan adik Lidya, Rere.

Incoming search terms: